Twitter Facebook
Hubungi kami: +62 555 55 55 | contact@ikatlits.com

  • img-20161109-wa0005
  • img-20161109-wa0006
  • img-20161109-wa0007
  • img-20161109-wa0009
  • img-20161109-wa0010
  • img-20161109-wa0014
  • img-20161109-wa0002
  • img-20161109-wa0003
  • img-20161109-wa0004

Aplikasi Ilmu Teknik Lingkungan Dalam Teknologi Sanitasi di Indonesia

RESUME KULIAH TAMU Kuliah tamu yang digagas oleh IKA TL ITS pada tanggal 9 Nopember 2016 bertema tentang...

Aplikasi Ilmu Teknik Lingkungan Dalam Teknologi Sanitasi di Indonesia

RESUME KULIAH TAMU

Kuliah tamu yang digagas oleh IKA TL ITS pada tanggal 9 Nopember 2016 bertema tentang “Aplikasi Ilmu Teknik Lingkungan Dalam Teknologi Sanitasi di Indonesia”. Narasumber yang diundang sebagai pembicara adalah Ir. Prasetyo, MEng (Kasubdit Perencanaan Teknis Dit. PLP/ Alumni TL ITS Angkatan 1986) dan Ir. Komang Raka M, MAP (Kasatgas DAK SLBM Dit. PLP/ Alumni TL ITS Angkatan 1985).  

Meskipun sedikit terlambat dari jadwal yang telah ditentukan, acara berlangsung sangat menarik. Kurang lebih sekitar 90 peserta yang terdiri dari mahasiswa, alumni, dan dosen, hadir memenuhi Ruang Sidang Jurusan Teknik Lingkungan.  Acara dimulai pukul 09.30 dan dibuka oleh Sambutan dari Sekretaris Jurusan Teknik Lingkungan ITS dan Ketua IKA TL ITS. Selanjutnya masing-masing narasumber memberikan presentasinya.

Hal menarik yang bisa didapat dari penjelasan Ir. Prasetyo, MEng antara lain bahwa target sanitasi Indonesia (pada sektor drainase,sampah, dan air limbah) harus mencapai 100% pada tahun 2019. Target yang cukup ambisius, mengingat capaian sanitasi pada sektor drainase, sampah, dan air limbah saat ini masing-masing baru mencapai 58% (BPS&MP, 2015), 88% (Riskesdas, 2014), dan 62% (BPS, 2015). Untuk itu, Direktorat PLP dibawah Kementerian PUPERA perlu bekerja keras, bergerak cepat, dan bertindak tepat untuk memenuhi target sanitasi tersebut. Setidaknya diperlukan dana investasi sebesar 273,7 Trilyun untuk dapat memenuhi 100% target. Dengan kemampuan dana APBN yang terbatas, Pemerintah Pusat sangat memerlukan dukungan teknis maupun support dana dari Pemerintah Daerah, Swasta, Dinas/Instansi, dan seluruh elemen masyarakat untuk mencapai target sanitasi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat menjadi lebih baik.

Selanjutnya seperti yang telah dijelaskan oleh Ir. Komang Raka M, MAP., butuh logika dan imajinasi untuk dapat membangun suatu sarana sanitasi (IPAL) yang dapat diterima oleh masyarakat. Melalui berbagai pendekatan yang dilakukan oleh fasilitator-fasilitator sanitasi yang tersebar di berbagai daerah, masyarakat diajak untuk menyambungkan pipa air limbahnya pada IPAL komunal. Jika masyarakat telah mengetahui bahwa IPAL dapat menghasilkan uang, berguna untuk meningkatkan  kesehatan, dan indah secara konstruksi, secara tidak langsung ini akan memberikan rasa memiliki dan bangga terhadap IPAL yang telah terbangun. Masyarakat akan dengan sukarela memberikan kontribusinya baik fisik ataupun dana untuk sistem operasi dan pemeliharaan IPAL.

Dalam kaitannya dengan desain dan proses yang terjadi dalam IPAL, tidak semua kriteria desain yang ada pada textbook dapat diterapkan di lapangan. Perlu inovasi-inovasi khusus untuk dapat menerapkan teknologi pengolahan air limbah pada kondisi wilayah di Indonesia yang beragam. Lahan yang sempit tidak menjadi penghalang, karena dengan memodifikasi konstruksi IPAL dengan cara melaminerkan aliran serta memaksimalkan kontak air limbah dengan bakteri di ruang sempit, akan dapat meningkatkan kualitas effluent sekaligus memangkas biaya konstruksi hingga 50%.